Posted by ⋅ 16 October 2012


Zona Damai: Bulan November dua tahun silam, Pemerintah Provinsi Papua bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, UNDP Indonesia dan UNESCO, menggelar sebuah konferensi tentang keanekaragaman hayati budaya di Tanah Papua. Konferensi yang diselenggarakan di Sasana Krida, Jayapura dan dihadiri turis-turis asing dari sekitar 80 negara, kebanyakan dari benua Eropa itu bertujuan berbagi pengalaman dan menghimpun masukan dalam upaya mengintegrasikan aktivitas pembangunan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumberdaya alam dalam kerangka pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Konferensi bertajuk International Biodiversity Conference itu menghasilkan beberapa rekomendasi termasuk diantaranya agar segera mendokumentasikan dan melestarikan budaya Papua. Para peserta konferensi yang terdiri dari para pakar ilmuwan dunia dan nasional, perwakilan dari departemen kebudayaan dan pariwisata, Pemerintah Nasional Timor Leste, Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Pemerintah wilayah New Caledonia, komunitas-komunitas agama dan budaya tradisional di Papua serta Organisasi Non Pemerintah itu sepakat bahwa Kebudayaan Papua yang memiliki beragam cirikhas serta terdiri dari kurang lebih 250 suku itu,perlu didokumentasikan, karena terancam akan hilang.

Barnabas Suebu (yang saat itu masih menjabat Gubernur Papua) mengatakan kegiatan semacam ini sangat penting dilakukan, karena akan lebih memperkenalkan keanekaragaman budaya Papua sekaligus melestarikannya, karena latar belakang dan konteks yang akan dibahas mencakup Papua pada bagian barat seluruh Pulau New Guinea, yang terdiri dari Provinsi Papua dan Papua Barat Indonesia.

Keragaman budaya yang luas ini, ujarnya, memanifestasikan dirinya sebagai warisan budaya berwujud atau tidak berwujud. Warisan berwujud mencakup, budaya materi mata pencaharian, transportasi dan arsitektur. Sedangkan warisan tak berwujud meliputi bahasa, spiritualitas, norma-norma dan nilai-nilai, organisasi sosial dan pengetahuan lokal. Hasil kekayaan keanekaragaman budaya di Papua bagian dari strategi kreatif dari adat Papua untuk secara dinamis beradaptasi dengan baik lingkungan alam dan sosial.

Budaya Melanesia

Dari sudut pandang antropologis, Penduduk Asli Papua termasuk ke dalam wilayah budaya Melanesia, yang membentang dari Maluku dan Nusa Tenggara di sebelah barat di atas pulau New Guinea hingga Kepulauan Solomon sejauh ke timur seperti Fiji, Vanuatu dan New Caledonia. Tanah Papua yang berada di bagian paling timur dari Indonesia, saat ini terdiri dari dua provinsi, Papua dan Papua Barat dengan total kawasan seluas sekitar 421.981 Km2 dengan penduduk sekitar 2, 8 juta jiwa pada Tahun 2010 (BPS, 2010). Orang-orang di daerah dekat ini berbagi sifat genetik dan budaya umum. Masyarakat Asli Papua saat ini dihadapkan dengan beberapa tantangan dan keprihatinan karena banyak faktor seperti urbanisasi, migrasi, mobilitas pekerjaan dan globalisasi. Akibatnya, sebagian besar dari 250 kelompok budaya dan bahasa sekarang dalam bahaya menghilang.

Keragaman budaya dan identitas orang asli Papua perlu dilestarikan dalam pembangunan berkelanjutan di Papua. Ini sesuai dengan Konvensi UNESCO tentang Perlindungan dan Promosi Keanekaragaman Ekspresi Budaya, yang menyatakan bahwa keragaman budaya dapat memainkan peran positif dalam memperkaya proses pembangunan.

Gubernur menegaskan, tujuan konferensi adalah sepenuhnya untuk memahami dan menghargai keanekaragaman budaya Papua, untuk memperkuat perlindungan, konservasi, dan promosi warisan budaya Papua dalam segala bentuknya tangible dan intangible, bergerak dan tidak bergerak, Juga mempromosikan dialog antara negara-negara tetangga dan daerah, dan membuat satu set rekomendasi, prinsip dan tindakan untuk pertimbangan baik di tingkat nasional dan regional.

Ancaman bagi keanekaragaman hayati di Tanah Papua meningkat sejalan dengan keberadaan Tanah Papua sebagai target para investor untuk industri-industri agro forestri yang berskala besar. Ditambah lagi dengan permintaan pembangunan infrastruktur yang juga meningkat. Oleh karena itu pembangunan dan konservasi harus berjalan seimbang dan dilakukan dengan bijaksana sehingga mendukung berjalannya pembangunan yang berkelanjutan.

Rekomendasi
Rekomendasi yang dihasilkan dari konferensi ini adalah mendorong pemerintah daerah untuk memfasilitasi endokumentasian peningalan budaya Papua dan mengembangkan warisan budaya Papua melalui penelitian dan dokumentasi, untuk mendorong masyarakat lokal termasuk partisipasi pemuda dan perempuan dalam pelestarian budaya serta mendorong pemerintah pusat melestarikan keragaman budaya Papua.

[Disadur dari tabloidjubi.com]